Sejarah Sabung Ayam Dan 3 Peristiwa penting

Posted on

Sejarah Sabung Ayam Dan 3 Peristiwa pentingSejarah Sabung Ayam Dan 3 peristiwa penting di Nusantara

Sejarah Sabung Ayam – Tradisi adu ayam di Pulau Jawa adalah permainan dua ekor ayam dalam satu lingkaran atau duel. Rata-rata ayam yang dia perjuangkan sampai dia lari atau menghilang, atau bahkan sampai mati. Permainan ini umumnya diikuti dengan perjudian yang berlangsung di dekat arena sabung ayam, aspek ini sepertinya kurang menarik dalam satu pertandingan jika tidak terkait dengan taruhan.

Chicken Fight

Ada juga banyak penggemar dan pecinta pertempuran jenis ini. Menurut website yang berhasil kami kumpulkan, hampir 10 juta orang di Indonesia bahkan tertarik untuk mengikuti taruhan jenis ini. Karena mudah untuk memainkan taruhan ini dan Anda dapat melihatnya dalam gaya hidup Anda. Biasanya game ini juga bisa disebut Chicken Fight. Permainan ini sudah dimainkan sejak dalam masa pemerintahan kerajaan Demak. Dalam salah satu cerita populer, pangeran memainkan sabung ayam dan bertemu dengan ayahnya, yang telah menyingkirkan ibunya.

Sekarang saya akan berbagi sejarah sabung ayam tradisional Jawa. Dimana saat itu ada seorang bernama Cindelaras yang memiliki kesaktian ayam yang juga tak terkalahkan oleh ayam tersebut. Atas dasar dan hasil tersebut, ia diundang oleh Raja Jenggal saat itu untuk mengikuti kompetisi. Saat itu, ayam sakti Cindelaras sedang berlomba-lomba mengalahkan ayam Raden Putra sehingga berhak mendapatkan separuh dari seluruh sifat ketajaman Raja.

Cindelaras dan Raden Putra

Sebaliknya jika ayam Cindelaras kalah, maka Cindelaras dihukum kepalanya dalam hukum kereta oleh putra raja. Alhasil, Cindelaras lah yang secara lahiriah menjawabnya sebagai pahlawan, dan orang-orang saat itu sedang membujuk Cindelaras dan Raden Putra untuk mundur dan mengaku kalah.

Di masa lalu, sabung ayam juga merupakan sinyal politik saat itu. Kisah wafatnya Raja Anusapati dari Singosari yang wafat melihat sabung ayam. Kematian raja terjadi di HRI Buddha Anusapati manis atau Rabu Legi di Singosari, di mana kerumunan di Istana Kekaisaran mempertunjukkan sabung ayam. Aturannya, siapa pun yang masuk ke arena adu ayam untuk mengambil senjata atau keris dilarang.

Saat Anuspati pergi ke arena, Ken Dedes Anusapati menasihati ibunya untuk tidak melepas tanduk yang dipakainya saat sabung ayam yang dilihatnya di istana. Tapi dia tidak bisa menahan hukum saat ini tentang larangan produktivitas dan siapa pun yang datang untuk membawa senjata tajam atau pisau. Hal ini membuatnya menyesal tidak mau melepaskan keris yang dikenakannya saat Pranajaya dan Tohjaya berkeras.

Anusapati adalah saudara laki-laki Tohjaya

Ada banyak kebingungan pada titik di mana kesepakatan bahwa faktor ini juga ditentukan oleh kisah ibu Ken Dedes yang terkemuka. Anaknya pasti ingin dibunuh oleh Keri-nya sendiri oleh adik Tohjaya. Setelah jenazah dimakamkan di Pura Anusapati yang dipugar dan masih mengingat kejadian tersebut, Anusapati adalah saudara laki-laki Tohjaya bersama ibu Ken Dedes dan junjungannya. Tunggul Ametung sedangkan Tohjaya adalah putra Ken Arok dan Ken Umang tertarik adu ayam.

Bahkan dalam penuturannya, masyarakat khususnya Ciung Wanara mengatakan bahwa kebahagiaan dan perubahan nasib seorang laki-laki bergantung pada memenangkan sabung ayam di arena sabung ayam, dan Anusapati tidak kalah dalam sabung ayam tersebut, melainkan dibunuh dalam permainan ini.

Sabung ayam sebagai pengingat 3 peristiwa penting di Nusantara

Peristiwa Politik di Masa Lalu

Sejarah sabung ayam juga menjadi pengingat peristiwa politik masa lalu. Kisah kematian Prabu Anusapati dari Singosari yang tewas saat menonton sabung ayam. Kematian Prabu Anusapati terjadi pada Hari Budha Manis atau Rabu Legi ketika ada keramaian di kerajaan Singosari di lingkungan keraton, salah satunya adalah pertunjukan adu ayam. Sesuai ketentuan yang berlaku, siapapun yang memasuki arena adu ayam dilarang membawa senjata atau keris.

Ken Dedes, ibu Anusapati, menasihati putranya untuk tidak mencopot keris leluhur yang pernah digunakannya sebelumnya, namun untuk sementara, saat adu ayam belum terjadi di arena, Anusapati terpaksa melepas kerisnya di bawah tekanan Pranajaya dan Tohjaya. Saat itu, kekacauan sedang merajalela, dan akhirnya peristiwa yang ditakuti Ken Dedes terjadi saat kekacauan merenggut nyawa Anusapati.

Mengharmoniskan Hubungan Antar Manusia

Di Bali, sejarah sabung ayam mengingatkan pada tradisi yang disebut Tajen. Tajen berasal dari kata tabuh rah, salah satunya adalah yajna (upacara) dalam masyarakat Hindu di Bali. Tujuannya luhur, yaitu mengharmoniskan hubungan manusia dengan Bhuana Agung. Ruang makan merupakan rangkaian upacara ramuan dengan menggunakan hewan kurban seperti ayam, babi, bebek, kerbau, dan berbagai hewan peliharaan lainnya.

Sebelumnya, sebelum penyembelihan, terjadi perkelahian dengan kemiri, telur dan alat kelapa. Perang sata dilakukan oleh ayam dalam rangkaian pengorbanan tiga sisi (telung perahat) yang melambangkan penciptaan, pemeliharaan dan pemusnahan dunia. Tradisi ini sudah ada sejak lama sekitar 1200, saat kerajaan Majapahit mengungsi ke Bali.

Hubungan Sosial Bermasyarakat

Dalam budaya Bugis, sejarah sabung ayam mengingatkan kita bahwa hal itu bahkan dikaitkan dengan budaya lama dengan menunjukkan relasi sosial antar masyarakat setempat. Gilbert Hamonic mengatakan budaya Bugis penuh dengan mitologi ayam. Sampai Raja Gow XVI, I Mallombasi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin disebut “Haaantjes van het Oosten”, yang artinya Ayam Jantan Timur. Dahulu, orang tidak disebut pemberani jika tidak memiliki kebiasaan minum wine dan adu ayam jantan. Dan berkomunikasi dengan keberanian ini biasanya dibandingkan dengan ayam jantan paling berani di desanya.

Raja X Mariogau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Melakukan kunjungan Resmi Ke Kerajaan Bone pada tahun 1562 kemudin disambut sebagai tamu negara. Raja Gowa kemudian mengundang Raja Bone La Tenrirawe Bongkange untuk memeriahkan acara dengan sabung ayam. Singkatnya, Raja Gowa kalah dalam pertarungan ayam melawan Raja Bone. Raja Gowa kehilangan 100 emas katie yang dia pertaruhkan sebelumnya. Itu adalah fenomena kegagalan yang sangat melanda dan mempermalukan Raja Gow. Di satu sisi, kemenangan King of Bones menempatkan kerajaannya dalam posisi psikologis yang kuat melawan kerajaan kecil di sekitarnya..

Baca juga : Peraturan Bermain Sabung Ayam